Pages

3 July 2013

Tata Cara Adat Pernikahan Minang

Pernikahan di Sumatera Barat mempunyai beragam tata cara adat. Biasanya tiap – tiap daerah mempunyai tata cara tersendiri. Secara garis besar memang sama, cuma ada beberapa hal yang mungkin di daerah satu dilakukan sedangkan di daerah lain tidak.
Begitu juga dengan pakaian pengantinnya. Biasanya pakaian pengantin minang identik berwarna merah dengan sunting yang tinggi dan berat. Tetapi tidak semua pakaian pengantinnya berwarna merah. Ada juga yang berwarna hitam. Biasanya pakaian pengantin berwarna hitam itu berasal dari daerah Solok, sedangkan merah dan emas biasanya berasal dari Padang.
Baju adat minang daerah Solok
Baju adat minang daerah Padang


Berhubung aku berasal dari Padang, aku mau memberikan sedikit informasi tentang tata cara adat pernikahan Minangkabau yang aku baca dari beberapa situs. Berikut tata caranya :

1.    MARESEK
Maresek merupakan permulaan dari rangkaian pelaksanaan pernikahan. Sesuai dengan sistem kekerabatan di Minangkabau, yaitu matrilineal, pihak keluarga wanita mendatangi pihak keluarga pria. Biasanya pihak keluarga yang datang membawa buah tangan.
Awalnya beberapa wanita berpengalaman diutus untuk mencari tahu apakah pemuda yang dituju berminat untuk menikah dan cocok dengan si gadis. Prosesi kadang berlangsung beberapa kali perundingan hingga tercapai kesepakatan dari kedua belah pihak keluarga.

2.    MAMINANG/BATIMBANG TANDO (BERTUKAR TANDA)
Keluarga calon mempelai wanita mendatangi keluarga calon mempelai pria untuk meminang. Bila diterima, maka lanjut ke proses bertukar tanda sebagai simbol pengikat perjanjian dan tidak dapat diputuskan secara sepihak.
Acara ini melibatkan orangtua, ninik mamak dan para sesepuh dari kedua belah pihak. Rombongan yang datang membawa sirih pinang lengkap disusun dalam carano atau kampia (tas yang terbuat dari daun pandan). Lalu dilanjutkan dengan acara batimbang/batuka tando.
Biasanya yang ditukarkan adalah benda pusaka seperti keris, kain adat, atau benda lain yang bernilai sejarah bagi keluarga. Baru setelah itu berembuk tentang penjemputan calon mempelai pria.

3.    MAHANTA SIRIAH/MINTA IZIN
Calon mempelai pria mengabarkan dan mohon doa restu tentang rencana pernikahannya kepada mamak – mamaknya, saudara ayah, kakak yang telah berkeluarga dan sesepuh yang dihormati. Begitu juga dengan calon mempelai wanita.
Calon mempelai pria membawa selapah yang berisi daun nipah dan tembakau. Kalau sekarang diganti dengan rokok. Sementara calon mempelai wanita menyertakan sirih lengkap.
Ritual ini ditujukan untuk memberitahukan dan mohon doa untuk rencana pernikahannya. Biasanya keluarga yang didatangi akan memberikan bantuan untuk ikut memikul beban dan biaya pernikahan sesuai kemampuan.

4.    BABAKO – BABAKI
Pihak keluarga dari ayah calon mempelai wanita (bako) ikut memikul biaya sesuai kemampuan. Biasanya berlangsung beberapa hari sebelum akad nikah. Antaran tersebut berupa sirih lengkap (sebagai kepala adat), nasi kuning singgang ayam (makanan adat), dan barang yang diperlukan calon mempelai wanita.
Sesuai tradisi, calon mempelai wanita dijemput untuk dibawa ke rumah keluarga ayahnya. Lalu para tetua memberi nasihat. Esoknya, calon mempelai wanita diarak kembali ke rumahnya diiringi keluarga pihak ayah dengan membawa berbagai macam barang bantuan tadi.

5.    MALAM BAINAI
Bainan berarti melekatkan tumbukan halus daun pacar merah atau daun inai ke kuku calon pengantin wanita. Berlangsung pada malam sebelum akad nikah. Tradisi ini sebagai ungkapan kasih sayang dan doa restu dari para sesepuh keluarga mempelai wanita.
Orangtua calon pengantin wanita memercikkan air harum tujuh jenis kembang
Calon mempelai wanita dengan baju tokah dan bersunting rendah dibawa keluar dari kamar diapit kawan sebayanya. Acara mandi – mandi secara simbolik dengan memercikkan air harum tujuh jenis kembang oleh para sesepuh dan kedua orangtua. Lalu setelah itu kuku calon mempelai wanita diberi inai.

6.    MANJAPUIK MARAPULAI
Calon pengantin pria dijemput dan dibawa ke rumah calon pengantin wanita untuk melangsungkan akad nikah. Dibarengi juga dengan pemberian gelar pusaka kepada calon mempelai pria. Rombongan utusan keluarga calon mempelai wanita menjemput calon mempelai pria sambil membawa perlengkapan.
Setelah prosesi sambah – manyambah dan mengutarakan maksud kedatangan, barang – barang diserahkan. Calon pengantin pria besera rombongan diarak menuju kediaman calon mempelai wanita.

7.    PENYAMBUTAN DI RUMAH ANAK DARO
Tradisi ini diiringi bunyi musik tradisional khas Minang yaitu talempong dan gandang tabuk, serta barisan Gelombang Adat timbal balik yang terdiri dari pemuda – pemuda berpakaian silat serta disambut pada dara berpakaian adat yang menyuguhkan sirih.
Pemuda berpakaian silat memainkan alat musik talempong
Keluarga mempelai wanita memayungi calon mempelai pria disambut dengan Tari Gelombang Adat Timbal Balik. Barisan dara menyambut rombongan dengan persembahan sirih lengkap. Para sesepuh wanita menaburi calon pengantin pria dengan beras kuning.
Sebelum memasuki pintu rumah, kaki calon mempelai pria diperciki air sebagai lambang mensucikan, lalu berjalan menapaki kain putih menuju tempat berlangsungnya akad.

8.    AKAD NIKAH
Diawali pembacaan ayat suci, ijab kabul, nasihat perkawinan dan doa. Prosesi akad nikah sesuai syariat Islam. Umumnya dilakukan pada hari Jumat siang.

9.    BASANDIANG DI PELAMINAN
Marapulai dijemput pihak anak daro untuk basandiang di rumah anak daro. Anak daro dan marapulai menanti tamu alek salingka alam diwarnai musik di halaman rumah.
Tarian khas minang pada saat resepsi
Kedua pengantin beserta keluarga


10.    TRADISI USAI AKAD NIKAH
Setelah akad nikah, terdapat lima acara adat yang dilaksanakan pada tata cara adat Minangkabau, yaitu :
a)    Mamulangkan Tando
Setelah resmi sebagai suami istri, maka tanda yang diberikan sebagai ikatan janji saat lamaran dikembalikan oleh kedua belah pihak.
b)   Malewakan Gala Marapulai
Mengumumkan gelar untuk pengantin pria sebagai tanda kehormatan dan kedewasaan yang disandang mempelai pria.
c)    Balantuang Kaniang (Mengadu Kening)
Dipimpin oleh sesepuh wanita, pasangan mempelai menyentuhkan kening mereka. Duduk berhadapan dengan wajah dipisahkan oleh kipas, lalu kipas diturunkan perlahan. Barulah kening pengantin akan saling bersentuhan.
d)   Mangaruak Nasi Kuniang
Diawali dengan kedua pengantin berebut daging ayam yang tersembunyi di dalam nasi kuning sebagai tanda hubungan kerjasama antara suami istri harus selalu saling menahan diri dan melengkapi.
e)    Bamain Coki
Permainan tradisional minang, semacam permainan catur dua orang, dengan papan menyerupai halma. Bermakna agar kedua mempelai bisa saling meluluhkan kekakuan dan egonya masing – masing agar tercipta kemesraan.
f)    Tari Payung
Dipercayai sebagai tarian pengantin baru. Syair “Berbendi – bendi ke sungai tanang” berarti pasangan yang baru menikah pergi mandi ke kolan yang dinamai sungai Tanang yang mencerminkan berbulan madu. Penari memakai payung melambangkan peranan suami sebagai pelindung istri.

11.    MANIKAM JAJAK
Satu minggu setelah akad nikah, kedua pengantin pergi ke rumah orangtua serta ninik mamak pengantin pria dengan membawa makanan. Tujuannya untuk menghormati atau memuliakan orangtua serta ninik mamak pengantin pria seperti orangtua dan ninik mamak sendiri.

Sumber :
·       http://www.eldiki.com/2013/04/tahap-tahap-pernikahan-di-minangkabau.html
·       http://wensphotography.at.ua/blog/tata_cara_pernikahan_adat_minangkabau_baralek_gadang/2010-06-05-1
·       http://minangphotographer.wordpress.com/2010/03/20/pakaian-pengantin-minang/
Share on: Facebook Twitter Google+ Linkedin

0 comments:

Post a Comment